Sabtu, 12 Desember 2009

Konsep Peternakan Rumung (Ruminansia-Unggas) : Sumber Gizi Murah bagi Keluarga


Mungkin saat ini tidak banyak generasi muda saat ini, terutama yang udah mau menikah, memikirkan bagaimana caranya nanti ketika sudah berkeluarga, bisa menyediakan makanan keluarga yang kaya gizi, terutama protein hewani, tanpa harus menyebabkan anggaran harian jadi bengkak. Atau bagaimana caranya, dengan penghasilan pas-pasan bisa setiap hari menyuguhkan telur rebus/goreng sebagai santapan bergizi bagi anak-anak. Sehingga harapan bagi tumbuhnya generasi yang cerdas dan cemerlang (brighter generation) bisa terwujud. Atau mungkin sudah terpikirkan, tapi butuh refrensi alternative bagaimana melakukannya?..sudahkah anda?..

Saya sendiri sih belum berkeluarga (hehe,doakan segera), tapi saya ingin membagi beberapa hasil pengamatan saya tentang bagaimana melakukan semua itu, yang mungkin sebagian orang berpikir nggak mungkin. Saya pribadi berpendapat, itu sangat mungkin. Bagaimanakah caranya? Adalah dengan membuat sebuah peternakan yang kecil namun terintegrasi, saya namakan konsep ini dengan nama Rumung, yaitu konsep peternakan yang mengintegrasikan model peternakan ternak ruminansia (sapi) dengan peternakan unggas (ayam kampung). Dan saya sarankan juga bagi anda, bahwa sebaiknya cari lokasi tempat tinggal di pedesaan, karena bisa lebih leluasa menerapkan konsep ini. Di kota juga bisa, namun harus melihat analisa SWOTnya, memungkinkan apa tidak.
Mengapa harus sapi dan ayam kampung. Pertama kedua jenis hewan ternak ini sudah umum dipelihara masyarakat dan relatif mudah dipelihara. Kedua, bahan pakan kedua jenis ternak ini sangat mudah didapatkan. Ketiga ternak sapi dan ayam bisa hidup berdampingan, bahkan menghasilkan suatu ekosistem yang mutualistik. Keempat, dari ternak ayam kampung bisa didapatkan produk telur dan daging bergizi bagi keluarga, sedangkan sapi bisa menjadi semacam tabungan masa depan keluarga. Kan lebih baik menabung uang dalam bentuk ternak, daripada di bank, apalagi bank Century, hehehe. Artinya melalui kedua jenis ternak ini, kita bisa mengkonversi (bio-konversi) berbagai macam jenis bahan/sampah organik menjadi suatu produk bergizi dan murah untuk dikonsumsi keluarga (from farm to table).
Nah bagaimana melakukannya? Klo yang sudah saya lakukan, saya memelihara sekitar 15 ekor ayam kampung dan satu ekor sapi. Dari satu ekor sapi ini, bisa menghasilkan sekitar 25-30 kg kotoran (faeces), tergantung jumlah konsumsi hariannya. Nah dari kotoran inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan baru bagi ternak ayam. Karena ternyata kotoran sapi ini bisa menjadi sumber munculnya belatung dan cacing tanah. Kedua jenis hewan “menjjikkan” ini mengandung protein kasar minimal 60%, dan setahu saya juga memiliki kecernaan yang sangat tinggi. Tentunya ini menjadi sumber pakan murah yang luar biasa berkualitas untuk mengoptimalkan daya produksi ayam kampung yang saya pelihara. Setidaknya dari kehadiran belatung dan cacing ini, bisa membantu menghemat sekitar 20-30% kebutuhan pakan bergizi bagi ayam. Kalau satu kilogram dedak sekarang seharga Rp.1800,00, dalam sehari butuh sekitar 2 kg dedak untuk 15 ekor ayam. Maka kita bisa hemat Rp. 540,00 (30%) dari pengeluaran untuk membeli dedak. Ayam bisa tumbuh lebih gemuk-sehat dan produktif menghasilkan telur, karena ada imbuhan lebih pakan berprotein tinggi dan kecernaan tiinggi. Belum lagi ditambah kehadiran rayap, pakan hidup berprotein tinggi yang juga sangat disukai oleh ayam. Mutualis ayam terhadap sapi, adalah dengan dipatuknya belatung yang ada di fesesnya, kehadiran penyakit dan lalat bisa ditekan. Klo bagi yang pelihara? Jelas berupa daging ayam, telur ayam kampung dan ternak sapi yang sehat.
Kalau sudah berjalan stabil, anda pasti akan menikmati hasilnya. Sudah tidak perlu lagi ada berita anak kurang gizi, atau keluarga tidak tumbuh dan hidup sehat hanya karena kesulitan menghadirkan makanan bergizi dirumah. Nah, apakah anda tertarik untuk mencoba?..:)


Selengkapnya......

Minggu, 01 November 2009

Bangun dari tidur karena sentakan panas Global Warming

Subhanallah...tak terasa, sudah sejak Mei (berarti sekitar 5 bulan) sampai sekarang saya baru mengupdate blog pribadi, yang rata-rata berisi tulisan ga penting ini. Yah, namanya juga amatiran yang masih terus belajar. Kalau kata teman saya, "pokoknya nulis aja, mau bagus kek, mau jelek kek kayak kamu, mau ga berbobot, nggak peduli, yang penting terus nulis dan nulis". Emang betul seh, dan kayaknya untuk membangkitkan semangat menulis saya yang sempat hibernasi selama 5 bulan ini, saya butuh sebuah sengatan. ya, sengatan!, tapi bukan sengatan tawon (akit soale..he he).

Sengatan itu ternyata adalah dampak global warming kepada iklim udara sekitar kita, termasuk rumah ortu saya, rumah tetangga, sawah-sawah, lapangan bola, barongan (jw:kebun belakang rumah yg banyak pohon bambunya) dan juga sungai-sungai.. dampak itu adalah panas, gerah, kekeringan dan kematian. Kalau daerah rumah saya yang di Mojowarno, Jombang sih, emang dari dulu kondisinya ga terlalu sejuk, meski saya masih ingat betul dulu waktu masih kelas 1 SD saya sering jalan-jalan pagi dengan mas dan adik menikmati udara pagi dan "kabut pagi!", sekali lagi "kabut pagi!". tapi sekarang, tidak ada lagi yang bernama kabut pagi di Mojowarno. Pagi di desa saya, sekarang disambut dengan udara hangat (jw:sumuk) dan kering.Bedaa banget..!
Terus tadi pagi, hari ini, saya menyempatkan main ke tempat teman saya yang ada di Wonosalam, tepatnya di desa Segunung. Kebetulan (sejak dulu), Jombang memiliki wilayah pegunungan dengan vegetasi yang cukup lebat (dulu). Terakhir tahun 2006 saya main ke desa Segunung, saya masih bisa merasakan dinginnya angin dan udara disana, ada banyak kabut pula. Hari ini? saya merasa kondisi udara di sana, hanya sebatas sejuk biasa. Sudah nggak sedingin dulu lagi. Ah...padahal, tujuan saya main kesana ya untuk ngisis (jw: mendinginkan diri dengan udara dingin). Saya sedikit kecewa, bukan pada teman saya tentunya, tapi pada perubahan udara, perubahan suhu iklim lokal, perubahan vegetasi yang begitu drastis ini. Lonceng peringatan yang sudah dipukul oleh para ilmuwan lingkungan sejak dulu tentang dampak global warming, yang oleh banyak pemimpin negara waktu itu dianggap angin lalu, kini sudah begitu jelas dampaknya pada kehidupan saya dan mungkin anda semua. ndak usah lagi memberi contoh jauh-jauh tentang lelehnya es di kutub utara dan selatan. di dalam rumah dan sekitar rumah kita saja, kita sudah pasti merasakan peningkatan suhu udara yang benar-benar signifikan. Ah celaka, apa yang Al Quran ingatkan makin jelas buktinya, ah celaka, ternyata ilmuwan-ilmuwan lingkungan itu benar, ah celaka, apa yang Al Gore kemukan ternyata benar, ah celaka, para pemimpin tuli itu ternyata salah, ah celaka, makin banyak danau mengering, ah celaka...ah celaka!!..Ampuni kami ya Allah, mudahkanlah kami, tolonglah kami.

Aku yang baru saja lulus,

Taufan Rahmatullah, S.Pt


Selengkapnya......

Sabtu, 09 Mei 2009

Ku Menulis Kembali

Ah, tidak terasa waktu berjalan hampir satu bulan sejak aku selesai penelitian di Batu. Entah mengapa, aku sepertinya mulai malas kembali membuat tulisan-tulisan entah pemikiranku, tulisan saintifik, politik atau sampai hal-hal yang menggelitik. Beberapa hal mengenai bagaimana momen terakhir penelitianku dan perpisahanku dengan sohib-sohib keren di kandang seperti mas Antok, Mas Agung, Pak Saeran, Mas Wiwit, Pak Slamet, Mbah Ri (eh..tapi orangnya rada gimana gitu), Pak Joko dll, momen situasi politik di fakultas yang masih abu-abu, momen ketika saya dan beberapa saudara seperjuangan saya melakukan rekreasi/rihlah ke pantai SendangBiru dan bermain sepuas-puasnya di Pulau Sempu, momen ketika saya secara bertahap namun pasti mengalami degradasi ruhiyah dan akhirnya bisa melakukan upgrade ruhiyah kembali, tulisan mengenai sejarah JAC dan ah masih banyak sekali momen-momen yang seharusnya dapat kurekam dalam tulisan sederhanaku ini. Ah mungkin bukan sekarang waktu yang tepat, tapi aku akan segera merampungkan beberapa hutang tulisanku ini. Bagi teman-teman harap bersabar ya. Insya Allah segera diselesaikan.


Selengkapnya......

Minggu, 12 April 2009

Momen bersejarah itu ada disebelah rumahku!


Pukul 06.00 WIB kesibukan beberapa anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di TPS 3 Desa Mojowarno sudah mulai terlihat. Kursi-kursi tunggu untuk para pemilih ditata rapi 2 ber-shaf. Meja-meja dan kursi bagi anggota PPS duduk dan melayani pemilih sudah ditata rapi dibawah pohon rambutanku yang cuma setinggi 3 meter (dari dulu segitu-gitu aja tingginya, he..he..).
Terpal sudah dipasang untuk melindungi diri dari terik sinar matahari yang begitu royal berbagi di Jombang beberapa hari ini. Kotak suara untuk anggota DPR-RI, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten, dan DPD sudah berjajar rapih. Bilik suara juga sudah disiapkan, ada 6 bilik suara berdimensi sekitar 50x60x50 cm dari alumunium yang sudah dijajarkan lengkap dengan alat penanda kartu suara yaitu pulpen warna merah. Kartu suara, lembar DPT, form berita acara, lembar pencatatan suara dan beberapa perangkat lain yang saya lupa sudah ditata rapi dan siap digunakan. Kesimpulannya, TPS 3 di sebelah rumahku (orang tuaku, he..he..) sudah siap untuk melaksanakan momen bersejarah yang bernama Pemilu 2009. All’ve been settled up!.
Para anggota KPPS di TPS 3 antara lain Pak Guru Yanto (ketua), Pak Polo Sunu (anggota), Mbak Ana (anggota), Mbak Naning (anggota), Mas Heni (anggota), dan Mbak Yani (anggota) ditambah lagi dua orang LINMAS/HANSIP yaitu mas Yayok dan Mas Andre memulai kegiatan pemilu dengan melaksanakan apel pagi. Apel (bukan apel batu malang ya, he..he..) pagi itu intinya adalah mengawali kegiatan dengan doa bersama dan pembacaan sumpah sebagai anggota KPPS untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam rumah, Ibuk juga sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk KPPS, NASI PECEL LAUK AYAM!, hmmm...enyak, he..he...Habis apel, sebagian anggota KPPS langsung sarapan pagi dan sebagian siaga di lokasi untuk menyambut kedatangan peserta pemilu.
Aku sendiri sedikit membantu menata kursi dan kotak suara, alasannya? Mmm, pengen bantu aja, he..he.. Dan para pemilih pun mulai berdatangan. Saat itu sudah pukul 06.30 kalau tidak salah. Berdasarkan keterangan dari Ketua KPPS, jumlah pemilih yang terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) TPS 03 berjumlah 387 orang, minus satu orang, sehingga total ada 386 orang pemilih. Hal yang menarik dalam pemilu kali ini adalah peraturan untuk membubuhkan tanda centang/contreng/cawang pada partai/CAD/DPD pilihan sebagai cara memilih disamping cara mencoblos. Menarik karena ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Menarik karena republik yang baru 11 tahun menikmati era kebebasan reformasi, yang baru memulai kembali pembelajaran demokrasi, yang masih memiliki keterbatasan SDM secara mayoritas sudah berani menerapkan sebuah sistem pemungutan suara yang berbeda ditengah-tengah kehidupan warga yang sudah terbiasa menggunakan cara mencoblos sekurang-kurangnya dalam delapan pemilu terakhir. Dan semakin menarik karena prediksi kesalahan mencontreng yang besar akan menjadi bagian dari irama pemilu kali ini. Wiuuh!, kalau dulu saja pak Nazarudin Syamsuddin (mantan Ketua KPU) menelan pil pahit penjara akibat permasalahan surat suara coblos tembus yang disahkan, lantas bagaimana dengan yang sekarang? Ada potensi masalah apa yang akan muncul dari ’sistem contreng’ kali ini? Wah kayaknya pak Hafidz Anshari harus ’siap-siap’ nih. Hmm..
Pukul 10.30 aku baru ikut antri di TPS. Beberapa teman lama waktu SD nampak, Dayat, Bruno, Zakaria, Udon, dan beberapa orang yang aku ingat wajah tapi lupa namanya (he..he..,sori boys). Proses pemilihan umum di TPS 03 dalam pandanganku berlangsung aman, lancar. Aku tidak melihat di lokasi ada aktivitas yang mengganggu seperti kampanye terselubung, pembagian uang, dan macam-macam aktivitas lain yang dilakukan dalam rangka mengarahkan pemilih untuk memilih calon atau partai tertentu. Tingkah laku beberapa pemilih di bilik suara bermacam-macam, ada yang tenang saja, ada yang bingung, ada yang agak jengkel karena lebarnya surat suara, ada juga yang kesulitan membaca karena beliaunya sudah sangat sepuh. Pas giliranku memilih, aku mengambil 4 jenis surat suara, surat warna kuning untuk memilih CAD DPR-RI, warna hijau untuk memilih CAD DPRD-Propinsi, warna biru untuk CAD DPRD-Kabupaten/Kota, dan warna merah untuk calon anggota DPD. Kubuka surat suara secara berurutan, lalu (dengan nada menyanyi) ”Contreng Pojok Kanan ataS!” he..he...(oops...).
Proses pemilihan diakhiri pukul 12.00 WIB teng!, selanjutnya dilaksanakan break selama 40 menit bagi KPPS untuk shalat dan makan. Kemudian proses penghitungan dilaksanakan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Aku sendiri lupa bagaimana hasil selengkapnya, yang jelas Partai Demokrat dan PDIP mendapatkan suara mayoritas. Mengenai partai Demokrat yang fenomenal ini saya ingin mengulasnya secara terpisah sambil menunggu hasil akhir penghitungan real count nasional KPU.
Apakah pekerjaan KPPS setelah penghitungan sudah selesai? Ternyata belum! Pasca penghitungan surat suara sah dan tidak sah, panitia KPPS harus melakukan rekapitulasi seluruh surat suara yang digunakan baik yang sah dan tidak sah dan surat suara yang tidak digunakan. Kemudian harus ”melipat” kembali surat suara yang digunakan kemudian dikaretin setiap 50-100 surat suara dan dimasukkan kedalam sebuah amplop yang sudah ditandai. Emm...pekerjaan ini memakan waktu hingga pukul 21.00 WIB. Fiuuh...beberapa panitia KPPS sudah nampak pucat dan kelelahan. Yups, selain ini sebagai pekerjaan (karena toh mereka dibayar), apa yang dilakukan oleh panitia KPPS ini adalah juga bagian dari rangkaian satuan kontribusi kebaikan bagi perubahan negeri ini. Dan semoga kontribusi mereka nantinya tidak menjadi ”sia-sia” akibat penyalahgunaan kekuasaan para penguasa negeri ini.Amin.

Selengkapnya......

Rabu, 08 April 2009

Ayo kita Mencontreng


Wah, tidak terasa setelah lebih dari 1 bulan merasakan muaknya iklan, kampanye, sosialisasi atau apalah itu namanya (yang semua demi mendulang suara), akhirnya berakhir juga momen2 itu.
esok tanggal 9 April 2009 adalah hari yang bersejarah bagi bangsa ini. nasib bangsa 5 tahun kedepan ditentukan (maksudnya diikhtiarkan). hitam putih, ijo abang, baik buruk kapal besar bernama Republik Indonesia ini akan ditentukan melalui jutaan "suara rakyat" yang disalurkan melalui kertas suara dari tiap bilik suara di tiap TPS di tiap daerah (hehe..). Meski saya tidak setuju dengan pernyataan "suara rakyat adalah suara Tuhan" karena memang tidak mungkin sama, tetapi saya setuju bahwa bagaimana arah bangsa ini melaju adalah ditentukan oleh suara rakyatnya sendiri. jika yang mayoritas menginginkan partai A yang menang, ya demikianlah nanti negara ini akan diwarnai (mayoritas) oleh kebijakan gaya partai A, apalagi capres yang menang juga dari partai A, hal ini berlaku juga untuk partai B dan seterusnya. Namun bila masyarakat ini (mayoritas) menginginkan untuk tidak memilih alias golput dengan berbagai alasan, dan itu hak mereka juga, maka mungkin memang demikianlah keinginan masyarakat. meski tidak jelas juga, yang golput itu karepnya piye terhadap bangsa ini. Saya sendiri insya Allah akan menggunakan hak suara saya di Pemilu 2009 ini, dan saya tidak menganjurjkan bagi teman-teman siapapun anda yang penting WNI yang sudah berhak (kecuali Polri, TNI, he he) untuk menjadi bagian dari golput. Yah, sebobrok apapun para caleg dan partai yang menjadi kontestan, insya Allah masih bisa dikorek-korek yang masih baik. Ini saya utarakan bukan untuk tendensius pada salah satu partai, tetapi sekadar menyampaikan saran bahwa dengan kita menggunakan hak suara di Pemilu adalah bagian dari menjaga kebebasan kita berdemokrasi itu sendiri, bayangin aja kalau terus-terusan jumlah golputnya meningkat..hmm apa yang akan terjadi ya...(menarik, tapi kok rasanya ngeri juga liat negara jadi collapse karena sudah tidak legitimate, tidak representatif lagi...).hmmff.... ah ya saya ada puisi sebagai penutup tulisan ini (kalau jelek, maklum lah ya..he...he...)

National Election, ur right!

National election will be held
but people live like in hell...
fell down into deep despair...
but we have right to be shared...
use it!, or silent like a sleeping bear!...


Selengkapnya......

Sabtu, 21 Maret 2009

Motor Astrea Prima 100 cc kesayanganku

Wah setelah sekian lama mencari inspirasi di tengah pergulatanku dengan sapi-sapi perah yang nakal bin nyebelin karena susunya sedikit melulu produksinya (he..he...sori ya pi..) akhirnya sebuah kejadian yang boleh dibilang tak terlupakan, unik, ngeri, capeee, puegeelll, plus hampir jatuh dari sepede menjadi inspirasi bloggingku kali ini. Ceritanya kumulai dari motorku ini ya.


Yup, sebagai salah satu pemuda desa yang dikirim ke kota untuk menimba ilmu (ciee...) maka untuk mempermudah masalah transportasi, ortuku memfasilitasiku dengan sebuah motor bebek merek Honda (keren kan, he...he...), jenis Astrea Prima kapasitas 100 cc, buatan tahun 1990, no rangka NB19253720, no Mesin NBE1152327 (kira-kira seperti itu yang tertulis di STNK), kondisi mesin mulus, kondisi lain-lain juga mulus (insya Allah). Yaa, klo dibandingin dengan motor-motor temenku yang keluaran terbaru, tampangnya jauh lah, tapi bagiku yang penting fungsional boy,he..he...Dan sepertinya memang jauh lebih baik punya motor bekas kayak punyaku ini daripada punya motor baru, soalnya di Kota Malang masalah curanmor menempati rangking kasus kriminal papan atas, dan motor baru semacam Jupiter Z, Jupiter MX, Supra Fit, Mio dll jadi sasaran paling empuk. Yang ga jadi sasaran empuk ya Honda 800, Astrea Prima, Honda BMW (bebek merah warna), binter, dan sederet motor butut lainnya (kecuali malingnya kepepet betul, baru deh...). Punya motor butut juga punya manfaat lain , yaitu tidak akan ada gadis genit bin centil bin pakaiannya ga sopan (apa lagi gadis muslimah/akhwat, he..he...) berminat untuk dibonceng. Pastinya kan tidak pas, gadis genit kok naiknya motor Astrea Prima 100 cc buatan 1990, gadis genit ya minimal motor-motor baru kayak Honda Vario, Yamaha Mio dll.

Tapi punya motor butut juga punya banyak kelemahan loh, he...he..., kayak motorku ini, masalah busi selalu menjadi masalah no satu, kemudian masalah oli yang terus bocor, dan yang terakhir tenaganya lemah klo dipake untuk daerah tanjakan. nah ini dia sambungannya, saat penelitian kemarin, stok bahan pakan ternakku yang berupa gamblong (gamblong=onggok, limbah tapioka) habis, aku dan temanku terpaksa harus mengambil gamblong ke desa Junrejo, Batu. Lokasinya kira-kira 4 km dari UPT HMT Batu tempat aku penelitian. dan secara geografis, desa Junrejo posisinya lebih rendah dari tempatku penelitian. Problemnya adalah tidak ada mobil bak yang bisa dipinjam, ada truk tapi tak ada yang bisa nyupirin, yang ada hanya 2 motor bebek (satunya punyaku yang butut), dan beban bahan pakan ternak yang akan diangkut kurang lebih 40 kg setiap karung. Kompleks sudah. Saat bahan pakan dinaikkan ke motor saja, motorku sudah berguncang dahsyat, soalnya ada dua karung yang harus kuangkut. Awal jalan, masya Allah, motorku goyang kiri dan kanan, brmm...brmmm, alhamdulillah lancar. Selanjutnya adalah masa yang paling sulit yaitu melewati jalan menanjak antara desa Junrejo dengan desa Tlekung. Semuanya lancar, kecuali pada jalan tanjakan terakhir, motorku ngadat, astaghfirullah, motorku oleng, hampir saja aku jatuh. Waduh, bener-bener pengalaman konyol bin menarik, ha...ha....Sesampainya di tempat penelitian, aku ditertawain teman-temanku, motor kotor, dan encok pegelinu ku kumat. Wah karena kejadian ini, jadi makin bersemangat untuk segera lulus, bekerja n menikah, jadi klo pegel2 kayak tadi, langsung bisa minta istri mijitin, he...he.....

Selengkapnya......

Minggu, 01 Maret 2009

Lactoscan

Cow juice or milkshakesImage via Wikipedia

Hari ke 7 dari penelitianku. Bu Bekti, Kepala BPT HMT Batu, akhirnya memberikan izin untuk menggunakan laktoscan. Laktoscan adalah alat uji kualitas susu dengan tingkat akurasi dan kecepatan ouput data yang cepat.
Kabarnya sih ni alat mahal banget,harganya antara 20-25 juta satu buah saja. Karena itu Bu Bekti mengamanahkan pada Mas Wiwit, staff yang sudah terlatih, untuk mendampingi aku kalau-kalau nanti aku hendak melakukan uji kualitas susu. Sekarang ini yang masih jadi tanda tanya bagiku adalah berapa biaya yang harus dibayar untuk setiap satu kali uji?...Hmmm, misalkan biayanya mencapai Rp.20.000/uji sampel, padahal aku harus menguji sekitar 45 sampel, berarti yang bakal kubayar sekitar...aduh, matri aku!

Malang, 28 Februari 2009

Reblog this post [with Zemanta]

Selengkapnya......